Ida Royani, M.Hum., dkk. — UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan — Penelitian Dasar Interdisipliner, 2026
Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh sepanjang 2025–2026 tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga pengalaman ekologis yang mendalam bagi para penyintas, terutama perempuan. Selama ini, cara perempuan penyintas menilai dan menarasikan kondisi ekologi pascabencana melalui kanal non-pemerintah seperti media sosial belum banyak dikaji, padahal narasi tersebut menyimpan informasi penting tentang bagaimana fakta ekologis dialami dan dimaknai dari sudut pandang mereka yang terdampak langsung. Penelitian ini, yang dilakukan oleh Ida Royani bersama tim dari Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Tadris Bahasa Inggris, UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan, hadir untuk mempelajari hal tersebut melalui pendekatan ekolinguistik. Dua hal ingin dicapai dalam penelitian tersebut yakni; menjelaskan karakteristik linguistik ekspresi appraisal (penilaian) yang digunakan perempuan penyintas terhadap situasi ekologi pascabencana, dan mengeksplorasi bagaimana ekspresi itu menarasikan fakta ekologis di wilayah-wilayah yang terdampak. Harapannya, pemahaman yang lebih utuh atas suara penyintas ini dapat mendorong penanganan pascabencana yang lebih responsif dan tepat sasaran.
Untuk menjawab tujuan tersebut, penelitian menggunakan metode campuran (mix method) yang memadukan analisis kualitatif dengan deskripsi kuantitatif, bersandar pada kerangka teori appraisal Martin dan White (2005). Appraisal menurut Read dan Carroll (2012) menggambarkan penilaian tindakan perilaku menjadi tiga subsistem: (1) sikap (attitude), yang didasarkan pada perasaan pribadi; (2) keterlibatan (engagement), yang mempertimbangkan posisi diri terhadap pendapat orang lain (heterogloss) dan pendapat sendiri (monogloss) (White, 2015); serta (3) gradasi (graduation), yang membahas bagaimana bahasa memperkuat atau melemahkan sikap dan keterlibatan yang disampaikan (Tupala, 2019).
Sebanyak 33 satuan lingual bermuatan appraisal dikumpulkan dari unggahan TikTok, Instagram, dan Facebook yang berasal dari ujaran perempuan penyintas di tiga wilayah terdampak, yaitu Sumatera Barat, Sumatera Utara; Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan, dan Aceh, dalam rentang Desember 2025 hingga Januari 2026. Data ini kemudian dianalisis mengikuti teknik interaktif Miles, Huberman (2004) dan Saldana (2014), dan sebagai laporan antara, hasilnya masih akan divalidasi lebih lanjut melalui Focus Group Discussion (FGD) bersama para ahli sebelum dirumuskan menjadi simpulan akhir.
Dari 33 data yang dianalisis, pola yang paling menonjol adalah dominasi system apprasial subtype Graduation, yang muncul pada 25 data atau 75,8% dari keseluruhan temuan, terbagi ke dalam sub-kategori Force (16 data, 48,5%) dan Focus (9 data, 27,3%). Artinya, perempuan penyintas jauh lebih sering menegaskan pengalaman mereka dengan memperkuat skala, intensitas, atau kejelasan suatu peristiwa ketimbang menyatakannya secara datar. Sistem appraisal subtype Engagement menempati posisi kedua dengan 5 data (15,2%), yang didominasi oleh Monogloss (4 data, 12,1%) dan hanya diselingi satu data Heterogloss (3,0%) yang menunjukkan kecenderungan penyintas menyampaikan peristiwa sebagai kebenaran tunggal dari sudut pandang mereka sendiri, tanpa banyak membuka ruang bagi suara atau sudut pandang lain. Sementara itu, sistem appraisal subtype Attitude, yang berkaitan dengan ungkapan sikap dan emosi secara eksplisit, justru paling jarang muncul, hanya pada 3 data (9,1%), dan seluruhnya berupa Affect bersub-tipe (negative) inclination yang bermuatan rasa takut.
Pola-pola ini mengarah pada satu benang merah: perempuan penyintas cenderung mengonstruksi narasi pengalaman bencana melalui penguatan atau intensifikasi terhadap skala, kuantitas, dan keparahan peristiwa (Graduation), bukan melalui pernyataan emosi secara langsung (Attitude). Mereka juga cenderung memposisikan diri sebagai saksi tunggal yang otoritatif atas apa yang dialami (Monogloss), alih-alih membingkai narasinya sebagai satu dari banyak sudut pandang yang mungkin berbeda. Menariknya, ditemukan pula variasi antarwilayah yang cukup mencolok: Sumatera Barat sama sekali tidak memunculkan ekspresi Attitude, sementara Aceh tidak memunculkan sub-kategori Focus, yang mengindikasikan bahwa cara penyintas menarasikan pengalaman ekologisnya bisa jadi dipengaruhi oleh konteks lokal masing-masing wilayah. Karena penelitian ini masih berstatus laporan antara, seluruh temuan di atas bersifat sementara dan akan ditinjau ulang melalui triangulasi FGD sebelum ditetapkan sebagai simpulan akhir.
Sebagai tindak lanjut, tim peneliti akan melaksanakan FGD validasi bersama para ahli, memperluas jumlah data yang dikumpulkan khususnya untuk wilayah Sumatera Barat yang masih relatif terbatas serta menyusun simpulan akhir dan naskah publikasi ilmiah dari keseluruhan hasil penelitian ini.
0 Komentar
Silakan tinggalkan komentar Anda