Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

.

Maulid Nabi dan Kepemimpinan yang Memberdayakan, Ketika Pemimpin Tidak Sekadar Memerintah


 
Ageng Widodo
Dosen Fakultas UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri

 

Setiap kali maulid Nabi Muhammad SAW diperingati, seringkali kita larut dalam berbagai kemeriahan, seperti pengajian akbar, festival, hingga berbagi makanan. Namun, pertanyaan sederhana yang seharusnya kita renungkan, setelah Maulid Nabi selesai, apa yang berubah dalam kehidupan masyarakat ?

Bukankah mengenang nabi muhammad SAW semestinya tidak berhenti pada acara seremonial perayaan? Bukankah seharusnya Maulid Nabi menjadi momentum untuk merefleksikan kembali keteladanan Nabi, terutama dalam hal kepemimpinan. Seperti yang kita pahami bahwa, Nabi bukan hanya pemimin yang mampu mengatur masyarakat, tetapi juga pemimpin yang mampu mengubah masyarakat menjadi lebih beradab.

Kepemimpinan nabi tidak dibangun atas jarak antara pemimpin dan masyarakat. Nabi hadir di tengah masyarakat, mendengarkan keluhan, memahami penderitaan, melindungi kelompok lemah atau rentan, serta selalu membuka ruang bagi mereka yang selama ini berada dalam posisi marginal.  Nabi tidak menjadikan masyarakat sebagai objek yang terus menerus menerima perintah. Sebaliknya, masyarakat didorong untuk memiliki tanggung jawab, keberanian serta kemampuan untuk menentukan masa depannya sendiri. Inilah hakikat pemberdayaan yang sesungguhnya.

Karena pemimpin yang baik, bukanlah pemimpinan yang membuat masyarakat semakin tergantung kepadanya. Justru sebaliknya, pemimpin yang baik adalah mereka yang mampu membuat masyarakat semakin berdaya. Pemimpin yang berorientasi pada pemberdayaan akan bertanya lebih jauh, bagaimana masyarakat dapat berdiri di atas kaki sendiri? apa yang dapat dilakukan agar masyarakat memiliki kekuatan dalam mengubah kehidupannya?

Setidaknya terdapat empat hal menjadi pemimpin yang memberdayakan. Pertama, pemimpin hadir di tengah masyarakat, pemimpin tidak hanya hadir saat “butuh suara” tetapi benar-benar hadir memperjuangkan kepentingan masyarakat. Kedua, pemimpin mendengar sebelum mengambil keputusan. Pola kepemimpinan yang instruksional dan sekedar memerintah dan intimidatif, tetap bisa berjalan tetapi hampa serta akan melemahkan organisasi itu sendiri. Ketiga, pemimpin memberikan akses bukan sekedar bantuan, dalam hal ini partisipatif kolaboratif diperlukan, serta memposisikan masyarakat sebagai subjek, diberikan pengetahuan dan soft skill. Keempat, memberdayakan bukan membuat ketergantungan. Konsep “kail dan ikan” perlu diimplementasikan, berikan soft skill agar mereka bisa survive. Bukan sekedar bantuan bantuan yang bersifat formalitas.  

Maulid nabi menjadi momentum untuk meluruskan pemahaman kita dalam memaknai kekuasaan dalam kepemimpinan. Kekuasaan bukan sekedar untuk memerintah, tetapi amanah untuk memastikan masyarakat memiliki ruang untuk tumbuh dan berkembang. Pemimpin yang terlalu sibuk menjaga citra dan mempertahankan kekuasaan, bisa saja menghasilkan masyarakat yang patuh, tetapi tidak dengan masyarakat yang berdaya.

Maka, memperingati maulud nabi jangan hanya menjadi ritual tahunan yang selesai bersama padamnya lampu panggung dan berakhirnya lantunan sholawat. Karena Nabi hadir untuk membangun masyarakat yang bermartabat, mandiri dan mampu menjadi subjek bagi perubahan kehidupannya sendiri. inilah esensi maulid yang penting untuk kita rayakan hari ini.

Posting Komentar

0 Komentar

HEADLINE ARTIKEL

Cara Mengirimkan Artikel Publikasi di Majalah Pendidikan dan Dakwah