Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

.

Integrasi Ilmu Dakwah dengan Socialwork Dalam Perspektif Historis

Buku ini diterbitkan oleh Dialektika Publisher

Penulis:
Dr. Icol Dianto, S.Sos.I., M.Kom.I
 


Integrasi Ilmu Dakwah dengan Social work mesti dimulai dari memahami sejarah tumbuh dan berkembangnya Ilmu Dakwah dan berdirinya institusi Fakultas Dakwah di Indonesia. Pada bagian ini ada tiga periode sejarah yang menjelaskan hubungan Ilmu Dakwah dengan Social Work di PTKI Indonesia. Periode pertama ditandai dengan penggunaan disiplin ilmu Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial sebagai mata kuliah inti bagi program studi di Fakultas Dakwah. Periode kedua ditandai dengan berdirinya program studi Pengembangan Masyarakat Islam. Periode terakhir ditandai dengan berdirinya Program studi Kesejahteraan Sosial.

 Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 110 Tahun 1982 tentang penetapan pembidangan Ilmu Agama Islam di lingkungan Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) menetapkan Dakwah Islamiyyah sebagai salah satu disiplin dalam rumpun Ilmu Agama Islam. Bidang ini dibagi menjadi dua subdisiplin, yakni Dakwah dan Perbandingan Agama. Subbidang Dakwah mencakup kajian Ilmu Dakwah, sejarah penyebaran dan perkembangan Islam, filsafat Dakwah, bimbingan sosial keagamaan, serta psikologi Dakwah. Adapun subbidang Perbandingan Agama meliputi sejarah agama, filsafat agama, sosiologi agama, dan psikologi agama.

Selanjutnya, KMA Nomor 97 Tahun 1982 tentang pelaksanaan kurikulum dan silabus IAIN menetapkan bahwa Fakultas Dakwah memiliki dua jurusan, yaitu Bimbingan Penyuluhan Masyarakat (BPM) dan Penerangan dan Penyiaran Agama Islam (PPAI). Dalam regulasi ini, kajian Social Work terintegrasi dalam kurikulum jurusan BPM melalui dua mata kuliah, yakni Kesejahteraan Sosial (2 SKS) yang diajarkan pada semester 8 dan Pekerjaan Sosial (2 SKS) pada semester 10. Kedua mata kuliah tersebut termasuk dalam kelompok Mata Kuliah Keterampilan Dasar (MKKD). Dokumen ini menjadi bukti historis bahwa Ilmu Dakwah telah menjalin interaksi akademik dengan Social Work sejak awal, bahkan diasumsikan telah terintegrasi sejak berdirinya jurusan Dakwah di PTAIN pada tahun 1950.

Kemudian, KMA Nomor 122 Tahun 1988 tentang pelaksanaan kurikulum IAIN yang mencabut KMA 97/1982 memperkuat posisi Ilmu Dakwah dengan total bobot 4 SKS, terbagi menjadi Ilmu Dakwah I (pengantar) dan Ilmu Dakwah II (metodologi), masing-masing 2 SKS. Penguatan ini dilengkapi dengan mata kuliah sejarah dan filsafat Dakwah yang mempertegas landasan keilmuan Dakwah dari perspektif historis dan filosofis. Pada masa ini, kajian Social Work juga dikembangkan menjadi beberapa mata kuliah baru, seperti Pembangunan Masyarakat I dan II, Kesejahteraan Keluarga dan Sosial, serta Pekerjaan Sosial.

Berikutnya, KMA Nomor 27 Tahun 1995 tentang Kurikulum Nasional Program Sarjana (S1) IAIN menjadi landasan hukum bagi pembentukan jurusan-jurusan baru di Fakultas Dakwah. Perubahan nomenklatur jurusan melahirkan KPI (Komunikasi dan Penyiaran Islam), BPI (Bimbingan Penyuluhan Islam), PMI (Pengembangan Masyarakat Islam), dan MD (Manajemen Dakwah). Kehadiran jurusan baru ini berdampak pada berkurangnya bobot kajian Social Work di jurusan BPM sebelumnya. Pada tahap ini, mata kuliah yang berkaitan dengan Social Work tersebar di tiga jurusan. Di jurusan PMI terdapat mata kuliah Dasar-Dasar PMI, Manajemen PMI, Metodologi PMI, dan Praktik PMI. Jurusan MD memuat mata kuliah Manajemen PMI, sedangkan jurusan BPI mencakup Dasar-Dasar PMI serta Pekerjaan dan Kesejahteraan Sosial.

Sebelum Program Studi PMI berdiri, mata kuliah Social Work berada dalam Program Studi Bimbingan Penyuluhan Islam, diwakili oleh mata kuliah Pekerjaan Sosial, Kesejahteraan Sosial, dan Pembangunan Masyarakat Desa yang tergolong mata kuliah profesi BPI. Dengan dibukanya Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam dan Manajemen Dakwah pada tahun 1994, mata kuliah yang berorientasi pada community development dialihkan ke Prodi PMI. Sementara itu, Prodi BPI tetap mempertahankan mata kuliah Dasar-Dasar Pengembangan Masyarakat Islam serta Pekerjaan dan Kesejahteraan Sosial, masing-masing berbobot 2 SKS.

Terakhir, KMA Nomor 383 Tahun 1997 tentang Kurikulum Nasional Program Sarjana (S1) IAIN yang disempurnakan dan Kurikulum Nasional Program Sarjana (S1) STAIN menjadi titik perubahan dalam perkembangan Ilmu Social Work di Fakultas Dakwah. Pada periode ini, mata kuliah yang secara eksplisit mencerminkan Social Work mulai berkurang dan orientasi kurikulum kembali menegaskan identitas masing-masing jurusan. Jurusan MD tidak lagi memuat Manajemen PMI, melainkan lebih berfokus pada manajemen kegiatan dan organisasi Dakwah. Jurusan BPI juga tidak lagi mencantumkan mata kuliah Pekerjaan Sosial dan Kesejahteraan Sosial. Sementara itu, jurusan PMI hanya mempertahankan satu mata kuliah yang identik dengan Social Work, yaitu Manajemen PMI.

Pemberlakuan KMA 383/1997 tersebut berdampak pada melemahnya peran jurusan PMI dalam menjalankan misi pengembangan dan pemberdayaan sumber daya masyarakat. Jurusan MD semakin didominasi oleh mata kuliah manajemen, Ilmu Dakwah, dan dirasat islamiyyah. Jurusan BPI lebih menitikberatkan pada bimbingan dan konseling, psikologi, serta kesehatan mental. Adapun jurusan KPI sejak awal memang tidak memiliki keterkaitan langsung dengan mata kuliah yang merepresentasikan Ilmu Social Work.

Berdasarkan uraian historis KMA tahun 1982–1997, dapat disimpulkan bahwa posisi Social Work dalam rumpun Ilmu Dakwah mengalami dinamika yang cukup signifikan.

  1. Fase Integrasi dan Penguatan (1982–1988)
    Pada periode awal, Social Work terintegrasi secara jelas dalam kurikulum Fakultas Dakwah, khususnya melalui jurusan BPM. Mata kuliah seperti Pekerjaan Sosial dan Kesejahteraan Sosial menunjukkan adanya dialog akademik yang kuat antara Ilmu Dakwah dan Social Work. Bahkan pada fase ini terlihat upaya penguatan melalui pengembangan mata kuliah Pembangunan Masyarakat dan Kesejahteraan Sosial.

  2. Fase Ekspansi dan Redistribusi (1995)
    Dengan lahirnya jurusan baru (KPI, BPI, PMI, dan MD), kajian Social Work tidak lagi terpusat, tetapi tersebar ke beberapa jurusan, terutama PMI. Namun, penyebaran ini justru mengurangi konsentrasi dan bobot keilmuannya, sehingga identitas Social Work menjadi kurang solid dalam satu payung akademik yang jelas.

  3. Fase Pelemahan dan Reorientasi (1997)
    KMA 383/1997 menjadi titik balik yang menyebabkan reduksi signifikan mata kuliah berbasis Social Work. Kurikulum kembali menegaskan identitas masing-masing jurusan, dan fokus Social Work semakin menyempit, terutama hanya tersisa secara implisit di jurusan PMI. Akibatnya, misi pemberdayaan dan pengembangan masyarakat tidak lagi menjadi arus utama dalam Fakultas Dakwah.

Intinya, secara historis Social Work pernah menjadi bagian penting dan terintegrasi dalam Ilmu Dakwah, bahkan sejak awal berdirinya jurusan Dakwah. Namun, perubahan kebijakan kurikulum dan restrukturisasi jurusan secara bertahap menyebabkan melemahnya posisi dan identitas keilmuan Social Work dalam Fakultas Dakwah.

Tertarik mempelajari Integrasi Ilmu Dakwah dengan Socialwork (Ilmu Kesejahteraan Sosial dan Pengembangan Masyarakat Islam, silakan baca di sini. KLIK LINK. 

Posting Komentar

0 Komentar

HEADLINE ARTIKEL

Cara Mengirimkan Artikel Publikasi di Majalah Pendidikan dan Dakwah