Bencana nasional akibat Siklon Tropis Senyar dan Koto pada 25 hingga 27 November 2025 kembali mengingatkan betapa besar dampak cuaca ekstrem terhadap kehidupan masyarakat Indonesia. Hingga kini, laporan kerugian finansial secara keseluruhan masih dalam proses pendataan dan belum diumumkan secara nasional oleh lembaga terkait, termasuk BNPB. Data yang tersedia baru mencakup beberapa wilayah terdampak, terutama di Sumatera, yang mengalami rangkaian bencana hidrometeorologi akibat hujan lebat dan angin kencang. Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menjadi daerah yang terkena dampak paling serius berupa banjir, banjir bandang, dan tanah longsor. Akibatnya, akses layanan publik terganggu, harga kebutuhan pokok ikut meningkat. Dari bencana alam bertranspormasi menjadi bencana kemanusiaan. Ancaman kelaparan, kehilangan tempat tinggal, gangguan kesehatan, dan terbatasnya layanan pendidikan dan distribusi logistik.
Sebagai masyarakat yang beriman, seringkali manusia salah dalam memahami musibah. Beberapa kelompok dengan tergesa-gesa menyebut musibah itu sebagai murka dan hukuman Allah. Dalam kesempatan ini, khotib ingin menyampaikan pandangan alternatif dalam memahami musibah.
1. Bencana Adalah Ketetapan Allah sejak Azali
Musibah adalah ketetapan Allah yang telah tertulis jauh sebelum manusia diciptakan, sebelum bumi dan langit terbentang. Setiap kejadian yang menimpa manusia, kecil maupun besar, telah tercatat dengan rinci dalam Lauh Mahfuzh. Tidak ada satu pun peristiwa yang keluar dari batas ketentuan ini, karena seluruhnya berada dalam cakupan ilmu Allah yang sempurna. Hal ini ditegaskan dalam firman-Nya: “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya.” (QS. Al-Hadid: 22). Dengan demikian, musibah bukanlah sesuatu yang terjadi tiba-tiba atau tanpa sebab, melainkan bagian dari sistem ketetapan ilahi yang telah disusun dengan hikmah.
Kesadaran bahwa musibah sudah tertulis dalam Lauh Mahfuzh menjadi pengingat bahwa kehidupan manusia berjalan di atas garis takdir yang telah ditentukan. Manusia diperintahkan untuk berusaha dan berikhtiar, namun hasil akhirnya kembali kepada apa yang telah Allah tetapkan. Allah berfirman: “Katakanlah: sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami.” (QS. At-Taubah: 51). Ayat ini menegaskan bahwa musibah bukan karena kebetulan, bukan pula karena kekuatan makhluk, tetapi murni bagian dari keputusan Allah.
Takdir musibah juga merupakan bagian dari sunnatullah dalam kehidupan dunia. Allah mengingatkan bahwa setiap manusia pasti akan merasakan ujian dalam berbagai bentuk. “Dan sungguh Kami akan menguji kamu…” (QS. Al-Baqarah: 155). Ujian ini bersifat universal, ditetapkan tanpa pengecualian dan tanpa memilih siapa yang lebih pantas atau tidak, karena ketentuan Allah berlaku atas seluruh makhluk.
Dengan memahami bahwa musibah telah tertulis di Lauh Mahfuzh, manusia dapat menerima kenyataan kehidupan dengan sikap tunduk pada ketetapan Allah. Bukan dalam rangka menilai musibah sebagai murka ataupun kasih, tetapi murni sebagai bagian dari takdir yang telah digariskan sejak awal penciptaan.
2. Musibah Sebagai Bentuk Uji Keimanan
Musibah merupakan bagian dari proses pengujian keimanan yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya. Kehidupan di dunia ini tidak akan ternilai tanpa ujian, karena ujianlah yang menunjukkan keteguhan hati seseorang dalam beriman. Allah menjelaskan bahwa manusia tidak cukup hanya dengan mengucapkan keimanan, tetapi harus dibuktikan melalui cobaan yang dihadapi. “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan berkata: ‘Kami beriman,’ sedang mereka tidak diuji?” (QS. Al-‘Ankabut: 2). Ayat ini menegaskan bahwa musibah hadir sebagai sarana untuk membuktikan kualitas iman, apakah tetap teguh atau justru goyah saat diuji.
Musibah yang datang dalam bentuk kesulitan hidup, kehilangan yang dicintai, penyakit, atau krisis lainnya, menjadi peluang bagi seorang mukmin untuk menunjukkan keyakinannya kepada Allah. Mereka yang sabar dan tetap teguh dalam keimanan akan membuktikan bahwa keyakinannya bukan hanya sekadar ucapan di lisan. Allah berfirman bahwa ujian berupa rasa takut, lapar, kekurangan harta dan jiwa diturunkan agar terlihat siapa yang tetap bersabar (QS. Al-Baqarah: 155). Dengan demikian, musibah mendidik manusia agar tidak hanya mengandalkan logika dan kenyamanan, tetapi menguatkan hubungan spiritual dengan Pencipta.
Ujian tersebut bukan untuk melemahkan, tetapi untuk mengangkat derajat keimanan. Allah menyatakan bahwa akan tampak jelas siapa yang benar dan siapa yang dusta dalam keimanannya (QS. Al-‘Ankabut: 3). Musibah menjadikan hati seorang mukmin lebih kokoh, karena ia belajar untuk tidak berpaling dari Allah dalam keadaan apa pun.
Dengan memandang musibah sebagai ujian keimanan, seorang hamba tidak mudah berputus asa. Ia memahami bahwa di balik setiap ujian terdapat kesempatan untuk membuktikan pengabdian kepada Allah dan memperbaiki kualitas diri. Itulah hakikat musibah dalam kacamata keimanan: medan pembuktian yang menentukan kesungguhan seorang hamba dalam berpegang teguh pada iman yang ia yakini.
3. Musibah Sebagai Bentuk Teguran Lembut dari Raja Alam Semesta
Musibah dalam hidup terkadang hadir bukan semata untuk menjatuhkan atau melemahkan manusia, tetapi sebagai bentuk teguran lembut dari Allah agar kita kembali ke jalan yang benar sebelum semakin jauh tersesat. Ketika seseorang mulai lalai, lebih sibuk mengejar dunia, atau terlalu yakin pada kekuatan diri, Allah dapat memberikan guncangan kecil berupa musibah agar hati tersadar kembali. Teguran ini adalah tanda kasih sayang, karena Allah tidak membiarkan hamba-Nya terus berada dalam kelalaian. Dalam Al-Qur’an Allah mengingatkan, “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar.” (QS. Asy-Syura: 30). Ayat ini menegaskan bahwa musibah sering kali menjadi pengingat atas kesalahan dan kelalaian, namun di baliknya Allah tetap memberi maaf dan membuka pintu perubahan.
Allah menginginkan hamba-Nya kembali menyucikan hati, bukan semakin tenggelam dalam kesalahan. Ketika manusia merasa terlalu nyaman hingga lupa bersyukur, Allah dapat menghadirkan peringatan agar ia kembali mendekat kepada-Nya. Dalam firman-Nya disebutkan: “Dan Kami tidak mengutus rasul kepada suatu negeri, kemudian penduduknya mendustakannya, kecuali Kami timpakan kepada mereka kesempitan dan penderitaan agar mereka tunduk dengan merendah diri.” (QS. Al-A’raf: 94). Teguran berupa kesempitan hidup bukan hukuman semata, tetapi ajakan untuk kembali mendekat dengan hati yang lembut dan penuh kesadaran.
Bahkan setelah manusia ditegur melalui musibah, pintu harapan tidak pernah tertutup. Allah berjanji akan mengganti kondisi menjadi lebih baik bila mereka kembali kepada-Nya. “Kemudian Kami gantikan kesusahan itu dengan kesenangan hingga mereka berkembang.” (QS. Al-A’raf: 95). Ini menunjukkan bahwa musibah adalah cara Allah mengarahkan manusia menuju kebaikan yang lebih besar. Dengan menyadari musibah sebagai teguran penuh kasih, hati akan lebih mudah menerima, introspeksi, dan kembali memperbaiki hubungan dengan Allah sebelum kesalahan semakin jauh membawa kita tersesat.
4. Musibah Sebagai Bentuk Murka dan Hukuman dari Allah
Musibah dalam sebagian kondisi dapat menjadi bentuk murka Allah, sebagai hukuman atas perbuatan manusia yang melampaui batas. Ketika dosa dan kemaksiatan dibiarkan tanpa ada upaya untuk bertaubat, maka turunnya bencana bukanlah sekadar kejadian alam atau peristiwa biasa, tetapi akibat dari kemarahan Allah terhadap berbagai pelanggaran yang dilakukan. Allah telah memperingatkan manusia agar menjauhi zina, riba, perjudian, kezhaliman, penipuan, dan tindakan-tindakan yang merusak kehidupan. Ketika pelanggaran itu dilakukan secara terang-terangan dan dianggap wajar, maka murka Allah dapat turun sebagai bentuk hukuman yang nyata. Allah berfirman: “Maka masing-masing Kami siksa karena dosa-dosanya. Di antara mereka ada yang Kami timpakan hujan batu dari langit, ada yang dibinasakan dengan suara keras mengguntur, ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan ada pula yang Kami tenggelamkan.” (QS. Al-Ankabut: 40). Ayat ini menunjukkan bahwa berbagai musibah dapat menjadi balasan atas kerusakan moral dan kedurhakaan.
Salah satu contoh paling jelas tercatat dalam sejarah adalah kaum Nabi Luth. Mereka tidak hanya sekadar berbuat dosa, tetapi melampaui batas fitrah manusia dengan melakukan penyimpangan seksual secara terang-terangan. Allah berfirman: “Dan (ingatlah) ketika Kami timpakan kepada mereka hujan (batu), maka amat buruklah hujan yang ditimpakan kepada orang-orang yang diperingatkan itu.” (QS. Asy-Syu’ara: 173). Hukuman berupa bencana besar yang menimpa mereka adalah manifestasi murka Allah yang diturunkan karena mereka mengingkari kebenaran dan tetap tenggelam dalam penyimpangan.
Murka Allah dalam bentuk musibah bukan ditujukan kepada orang tertentu saja, tetapi dapat menimpa suatu kaum saat kejahatan dan kemaksiatan merajalela tanpa dicegah. Allah memperingatkan: “Dan takutlah terhadap fitnah (azab) yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kalian.” (QS. Al-Anfal: 25). Ini mengingatkan bahwa bencana dapat datang sebagai hukuman kolektif saat masyarakat membiarkan kemungkaran meluas tanpa usaha untuk menghentikannya.
Dengan demikian, musibah dapat menjadi tanda murka Allah terhadap perilaku melampaui batas, perusakan moral, dan pembangkangan terhadap perintah-Nya. Sejarah umat terdahulu menjadi pelajaran agar manusia tidak mengulangi pelanggaran yang mendatangkan bencana dari langit maupun dari bumi.
5. Musibah Sebagai Hukum Kausalitas (Sebab-Akibat)
Musibah dalam banyak keadaan dapat dipahami sebagai kausalitas, hukum sebab dan akibat yang berjalan secara alami. Alam bekerja dengan mekanismenya sendiri dan setiap tindakan manusia terhadap lingkungan membawa konsekuensi. Ketika keseimbangan alam terganggu, maka alam akan melakukan “normalisasi” dengan caranya, dan sering kali hasil dari proses itu muncul sebagai bencana. Hal ini bukan sesuatu yang terjadi tiba-tiba, melainkan rangkaian reaksi logis dari apa yang manusia perbuat sebelumnya, baik disadari maupun tidak.
Ambil contoh penebangan hutan secara masif. Ketika pepohonan ditebang tanpa kendali, tanah kehilangan penjaga alaminya. Akar-akar pepohonan selama ini berfungsi menyerap air, mengikat tanah, dan menahan lereng agar tetap kokoh. Ketika hutan berubah menjadi kawasan gundul, tidak ada lagi penjaga yang menstabilkan tanah dan mengolah curah hujan secara alami. Pada musim penghujan, air tidak lagi terserap ke dalam tanah seperti sebelumnya, tetapi mengalir deras ke lereng dan sungai. Di hulu sungai, debit air meningkat secara ekstrem, membawa lumpur dan material tanah dari atas bukit, dan akhirnya menghasilkan banjir bandang yang melanda pemukiman di bawah. Longsor pun terjadi karena tanah yang kehilangan pegangan menjadi mudah runtuh. Dalam kasus ini, yang tampak sebagai musibah sesungguhnya mengikuti pola sebab dan akibat.
Contoh lain dapat dilihat dalam pembangunan konstruksi bangunan. Apabila sebuah rumah atau gedung dibangun tanpa perhitungan struktur yang kuat, tanpa memperhatikan kualitas bahan dan beban konstruksi, maka bangunan menjadi rapuh. Pada awalnya mungkin tidak tampak kelemahannya, tetapi sedikit guncangan, perubahan cuaca ekstrem, atau getaran kecil dapat memicu keruntuhan. Ketika bangunan roboh, orang menyebutnya musibah. Namun secara kausalitas, musibah itu lahir dari proses panjang pengabaian standar keselamatan. Tindakan awal menentukan hasil akhir.
Kausalitas juga terlihat dalam pola konsumsi manusia. Ketika limbah plastik dan sampah rumah tangga dibuang sembarangan ke sungai, aliran air menjadi tersumbat. Pada musim hujan, volume air meningkat namun terpaku di titik yang tersumbat, menyebabkan banjir besar di area pemukiman padat. Tidak ada yang menyangka bahwa tindakan kecil membuang sampah di sungai dapat berujung musibah besar, padahal rantai sebab dan akibat sangat jelas.
Contoh serupa berlaku dalam degradasi tanah pertanian akibat penggunaan pestisida berlebihan. Pada awalnya, pestisida membantu tanaman melawan hama, tetapi penggunaan jangka panjang mematikan mikroorganisme sehat di tanah, mengurangi kesuburan, dan memicu gagal panen. Musim demi musim hasil panen menurun, lalu masyarakat petani mengalami krisis ekonomi. Sekali lagi, musibah lahir bukan secara tiba-tiba, tetapi sebagai konsekuensi dari tindakan sebelumnya.
Bahkan pada skala sosial, kausalitas dapat terlihat. Ketika masyarakat membiarkan budaya korupsi, menormalisasi ketidakjujuran, atau mengabaikan pendidikan, maka generasi berikutnya akan tumbuh dalam lingkungan yang rapuh. Dampaknya dapat muncul sebagai krisis moral, meningkatnya kriminalitas, atau ketidakstabilan sosial, sebuah musibah dalam skala peradaban.
Dengan memahami musibah sebagai hukum sebab akibat, manusia dapat belajar melihat jauh ke belakang sebelum menyalahkan keadaan. Musibah bukan sekadar kejadian, melainkan laporan alam atas apa yang telah dilakukan terhadapnya. Jika kita merusak keseimbangan, alam akan mencari titik seimbangnya sendiri, bahkan bila proses itu terasa menyakitkan bagi manusia. Pada saat yang sama, kausalitas memberi harapan: jika manusia memperbaiki perilakunya, menjaga lingkungan, membangun dengan aman, dan bertindak bijaksana, maka hasil akhirnya pun akan lebih baik. Alam merespons apa yang kita lakukan, demikianlah hukum sebab dan akibat bekerja tanpa henti.
Note: Tema ini disampaikan dalam versi singkat Khotbah Jumat, 28 November 2025, di Masjid Al-Muhajirin, Perumahan Sidempuan Indah Lestari, Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara, Kota Padangsidimpuan, Provinsi Sumatera Utara, Indonesia.

0 Komentar
Silakan tinggalkan komentar Anda