Oleh: Irwan Saleh Dalimunthe
Pendahuluan
Setiap muslim memiliki konsekwensi tanggung jawab terhadap dirinya untuk bisa hidup baik di hadapan Allah SWT. Yakni ia harus beragama agar potensi dirinya baik menyangkut jiwa maupun raga. Kenyataannya manusia adalah perpaduan antara materi dengan non-materi. Dan, hanya agama yang dapat memadukan dua entitas tersebut. Sebab, dalam ajaran agamalah ditemukan konsep tentang jiwa yang bersemayam di raga serta arah pengelolaannya.
Beragama khususnya Islam memiliki ketentuan sesuai anjuran Rasulullah dalam hadits. Ringkasnya dalam Kitab Hadits Arbain Imam Nawawi disebutkan bahwa Rasul didatangi Malaikat Jibril dan berdialog dengan beliau dalam membicarakan 3 hal yakni Iman, Islam dan Ihsan. Ketiga aspek ini oleh Haidar Baqir diistilahkan dengan Rukun Beragama. Yakni Iman dengan 6 pilar dasar, Islam dengan 5 prinsip serta Ihsan yaitu; beribadah kepada Allah seakan melihat hakekat Allah, kendati tidak melihat akan tetapi harus disadari Allah melihat semua makhluk-Nya tanpa terkecuali.
Kenapa disebut dengan rukun beragama, dikarenakan Iman akan dilihat dalam ketaatan melaksanakan Islam maknanya bukti ia yakin dan percaya pada Allah, Malaikat, Rasul, Kitab, Takdir dan Hari Kiamat pasti tercermin dalam kesadarannya melaksanakan ajaran agama dengan 5 pokok yakni ikrar syahadat, melakukan solat, puasa, zakat dan haji. Akan tetapi muara dari kesadaran Iman dan kekhusukan berislam pasti terlihat nyata dalam sikap dan karakternya sebagai insan dengan misi kebaikan dan watak serta karakter kebaikan atau ihsan. Seluruh ritual Islam mengarahkan manusia untuk bisa Ihsan. Tanpa kecuali Ibadah Puasa serta Haji. Artikel singkat ini mencoba menguak sedikit hakekat Puasa dan Haji serta signifikansinya dalam membentuk manusia yang baik.
Hakekat Puasa
Selama sebulan penuh umat Islam menjalankan Ibadah Puasa Ramadhan karena secara syariat adalah perintah Allah subhanahu wa ta’ala tertera di dalam Al-Qur’an, surat Al-Baqarah, ayat 183. Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Ada Pertanyaan Sederhana yang perlu mendapat jawaban yang baik dan benar dari kita. Yakni Kenapa Allah Mewajibkan Melaksanakan Ibadah Puasa bagi setiap orang beriman ? Bisa jadi jawabnya adalah : Bahwa manusia beriman itu merupakan Insan yang sadar tentang siapa dirinya. Mereka sadar bahwa dirinya adalah makhluk yang dianugrahi kesempornaan raga dengan segala sifat dan kecendrungannya serta makhluk mulia karena satu satunya sosok pengisi bumi mendapatkan bekal dengan kelengkapan multipotensi yakni “Tiupan Roh Suci dan Mulia dari Allah-makhluk yang dihembuskan Energi dan kekuatan Ilahiyah. Dapat dilihat pada Surah Shod ayat 71 dan 72 yakni : Artinya: Ingatlah Ketika Allah berfirman kepada para Malaikat, sesungguhnya Aku Jadikan Basyar dari Tanah. Tatkala sudah Semporna Janiin dalam Rahim maka Aku tiupkan Roh Pemberian-Ku padanya maka tundukkanlah diri dengan sujud.
Dari dua realitas Raga dan Roh membuat manusia dipengaruhi oleh dua tuntutan dan tarikan yakni keinginan bersifat biologis-material satu sisi dan tarikan dan ajakan bersifat Suci dan Mulia pada sisi lain. Karena dalam realitasnya manusia ada dalam bumi dan bergumul dengan kegiatan dan kecendrungan material yang diliputi hawa nafsu yang dapat melampawi kebutuhannya sehingga dibutuhkan sarana dan wadah yang dapat menjadikan manusia tetap bagian diri yang bermartabat serta bekepribadian baik, tidak menjadi budak materi dan hawa nafsu alias hamba hawa nafsu dan egonya tapi menjadi pribadi yang menggenggam, menguasai materi dan keduniaan sebagai sarana hidup, maka untuk bisa mempertahankan kodratnya sebagai manusia mulia yakni sebagai Abdun dan Pemimpin Kehidupan yang BAIK, Allah memberi norma-norma Agama dalam bentuk Syariat.
Disinilah ditemukan ajaran Ibadah yang bertujuan membentuk dan menggamblengnya agar manusia tetap bertahan dalam karakter dasar yakni Fithrah. Ibadah dimaksud adalah Puasa Solat, Zakat, Haji, Zikrullah dsb. Karena dengan melaksanakan aturan aturan ini manusa mampu menapaki hidup berada pada relnya, hingga dapat mengharmoniskan dua tuntutan kehidupan manusia.
Ibadah puasa adalah bertujuan untuk membentuk manusia menjadi hamba yang bertakwa kepada Allah. Sebab dalam bulan Ramadhan banyak hal yang dalam kondisi normal di luar bulan Ramadhan boleh dilakukan karena hukumnya mubah atau boleh. Tetapi selama puasa di siang hari, dilarang melakukannya seperti makan, minum dan hal-hal lain yang membatalkan puasa dengan memindahkan waktunya ke malam hari.
Semua itu untuk melatih manusia menjadi mampu menahan diri, menguasai diri dan mengendalikan diri sendiri. Jika terhadap hal-hal yang sebenarnya kita boleh melakukannya namun kita mampu menahan diri, apalagi terhadap hal-hal yang dilarang, tentu kita jauh lebih mampu meninggalkan larangan itu. Inilah salah satu inti tujuan ibadah kita di bulan Ramadhan. Puasa itu menjadi Bulan Madrasah Ruhaniah atau masa pelatihan jiwa. Sebab dengan kondisi jiwa seperti ini maka aspek lain seperti Salat, termasuk Tarwih, Tilawah atau Tadarus al-Quran, memperbanyak sedekah dan sebagainya akan ikut lebih baik pelaksanaannya. Intinya adalah Ibadah Puasa mendorong manusia menjadi totalitas tunduk dan patuh pada Allah swt.
Hakekat Haji
Bicara tentang perlunya ibadah ini, kita mesti ingat bahwa di dalam diri kita tersedia alat-alat diri baik yang kasar (Hardtware) seperti panca indra dan juga perangkat halus (Software) yang dilengkapi Allah untuk menjadi media seperti penampung Cahaya Ilahiyah yakni Qolbun (dalam penuturan Ibnu Araby dan para sufi sebagai Baitulloh dalam diri kita). Maka ibadah puasa adalah sebagai wadah melatih Hati dan membangun kekuatan jiwa untuk tidak kompromi dengan larangan. Hati digodok selama satu bulan penuh dengan sebuah keinginan agar hati suci secara terus menerus menjadi Imam bagi kehidupan kita sepanjang masa.
Perlu diketahui bahwa Cahaya Ilahiyah, Hawa Nafsu dan Syetan, adalah unsur yang selalu ingin mengisi dan menguasai Inti Qolbiyah tadi agar manusia bisa dikendalikan, inilah yang terus menerus berperang untuk menguasai lokasi strategis itu. Hawa Nafsu masuk dengan keinginan duniawi dibantu oleh setan terus mendorong agar manusia memuaskannya. Ketika seseorang memiliki kecendrungan mengikutkan keinginan yang berlebihan maka manusia akan menjadi jahat. Jelas dalam Quran Surah Yusuf ayat 53: Artinya: Akuu tidak menyatakan diriku bebas dari kesalahan karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan. Ini disebabkan karena Qolbiyah redup cahayanya tidak sanggup mencahayai akal pikiran, manusia yang sudah dikuasai Hawa Nafsu dan Syetan otomatis tersesat menjadi pribadi yang merusak jiwa sendiri, bahkan orang lain dan alam lingkungan.
Pada sisi lain, setiap manusia diharapkan dapat bersifat manusiawi bukan hanya dengan kemampuan menguasai diri dan mampu mengendalikan hawa nafsu sehingga saling memaslahatkan antar sesama manusia dan makhluk lain, akan tetapi manusia diharapkan lebih dari itu, yakni berkemampuan untuk membantu yang lain bukan saja dari aspek materi, akan tetapi hingga hal-hal yang pokok menyangkut dengan pemenuhan kebutuhan Hati atau unsur Soritualitas saudaranya yang lain. Maka pada sisi lain hal ini akan dapat diisi dengan mendalami sifat manusia pilihan seperti Ibrahim, Ismail dan Siti Hajar as. Sebab jalan hidup mereka ditakdirkan Allah menjadi Insan pilihan jauh sebelum kedatangan Muhammad saw dalam meletakkan dasar dasar ajaran Tauhid.
Mengikuti dan menapak tilasi kehidupan mereka akan menanamkan dan menguatkan Keimanan. Agar Iman kuat maka mengenal Allah dan diri kita serta apa yang ada disekeliling kita sangat penting. Perintah Haji adalah bagian yang mendorong setiap muslim untuk memenuhi hal itu. Sebab Haji satu sisi adalah usha menapak tilasi jejak kaki dan perjuanganIbrahim dan keluarganya mengenalkan layanan Allah dalam menggambleng terbentuknya Hati yang Hanef yakni manusia beriman dan tunduk pada Allah swt. Maka ritual haji hakekatnya adalah dalam tujuan itu.
Hubungan Puasa Dengan Haji
Ibadah Puasa yang baru kita kerjakan adalah sebagai usaha melatih dalam mengendalikan diri dan menguasai diri agar menjadi pribadi matang dan kuasa atas dirinya dalam arti dapat memposisikan Tuhan sebagai Raja Pengaturnya sehingga tidak jadi manusia yang di atur keinginan atau hawanafsunya. Bahkan ada ibadah berinfaq diantaranya zakat sebagai sarana mendidik jiwa perduli dan dengan tumbuhnya rasa kebersamaan diharapkan terkubur jiwa ego, serakah dan memikirkan diri sendiri. Lalu ada Ibadah Haji, sebagai ibadah pencetak generasi yang dalam diri setiap Jamaah harapannya adalah mereka menjadi sang Ibrahim yang hidupnya habis untuk menegakkan agama Tauhid. Sosok dan tokoh yang amat terkenal dengan jiwa pengorbanannya dan dalam tradisi hidupnya menjadi pribadi mandarah daging sebagai sosok yang gemar berkurban. Selalu berkurban unta-unta miliknya membantu banyak orang. Sehingga anaknya sendiri saat diperintahkan Allah untuk dikorbankan justru tidak sedikitpun ia perhitungan kepada Allah.
Islamil yang mulia dalam ketaatan pada orang tua yakni pendukung sang Ayah walau taruhannya nyawa untuk membela tegaknya kepatuhan pada Allah selalu siap dalam ketaatan yang tanpa tedeng aling-aling nyawa sekalipun akan dipersembahkan untuk medukung dakwah agar selalu berserah pada Allah swt. Tentu dalam didikan sang Ibu Siti Hajar sang pasangan yang rela terisolir demi ketaatan pada sang imam pejuang penegak yang patuh dalam panji La ilaha Illa Allah. Diri seperti ini menjadi modal membangun dan mempertahankan dalam membentuk kehidupan keluarga taat pada Allah swt. Jejak kaki merekalah yang jadi dasar terbentuknya ritual Haji dan jiwa serta mental itulah salah satu tujuan pokok berhaji.
Hubungan antara ibadah puasa Ramadhan dan pelaksanaan ibadah haji merupakan proses berkelanjutan dalam pembentukan jati diri seorang Muslim, di mana keduanya berfungsi sebagai sarana transformasi karakter dari dimensi personal menuju dimensi sosial-universal.
Ikhtisar
Puasa Ramadhan membangun fondasi disiplin batin dan pengendalian diri secara individu, sementara ibadah haji memproyeksikan kekuatan karakter tersebut ke dalam lingkup kemanusiaan global yang setara di hadapan Allah SWT. Sinergi Pembentukan Jati Diri yang Transformatif dalam Pengendalian Diri (Tazkiyatun Nafs).
Puasa Ramadhan adalah madrasah tahunan yang melatih seorang Muslim untuk menaklukkan keinginan fisik (makan, minum, dan syahwat). Jati diri yang terbentuk adalah pribadi yang tangguh dan tidak diperbudak oleh materi. Kematangan emosional ini menjadi modal krusial saat melaksanakan haji, di mana kesabaran diuji secara ekstrem melalui kerumunan massa, kelelahan fisik, dan larangan-larangan ihram.Penyucian Niat dan Keikhlasan
Dalam puasa, jati diri Muslim dibangun di atas kejujuran karena hanya Allah yang tahu seseorang benar-benar berpuasa. Karakter "merasa diawasi" (muraqabah) ini dibawa saat berhaji, memastikan bahwa perjalanan suci tersebut tetap murni sebagai ibadah kepada Allah, bukan untuk mencari status sosial atau gelar "haji" di masyarakat.
Puasa menumbuhkan empati terhadap kaum lapar melalui rasa haus dan lapar yang dialami. Jati diri yang penuh kasih ini kemudian mencapai puncaknya pada ibadah haji, di mana identitas kesukuan, jabatan, dan kekayaan dilepaskan melalui pakaian ihram. Muslim yang telah "lulus" dari Ramadhan akan melihat jutaan orang saat haji bukan sebagai orang asing, melainkan sebagai saudara setara.Kombinasi kedua ibadah ini melahirkan jati diri Muslim yang seimbang: memiliki integritas moral yang kuat di dalam diri (hasil puasa) dan memiliki kepedulian serta kesadaran kemanusiaan yang luas di luar diri (hasil haji). Taat dalam Puasa dan melaksanakan Haji, muslim yang demikian benpeluang menempa dirinya untuk menempati posisi maqom Ihsan.
Rujukan
Al-Quran
Karam Amin Abu Karam, Hakekat Ibadah Menurut Ibnu ‘Arabi, Menyelami Makna dan Hikmah Rukun Islam, Ciputat, Alifia Books, 2020
Sehat Sultoni Dalimunthe Cs, Ke Mekkah Apa Yang Kamu Cari, Meningkatkan Ibadah Gerak dan Lisan dengan Akal dan Hati, Jogyakarta, Deepublish, 2012
Syahruddin El-Fikri, Sejarah Ibadah, Jakarta, Penerbit Republika, 2014
Yunasri Ali, Spritualitas Ibadah, Memahami Keindahan dan Kedalaman Makna Shalat, Puasa, Zakat dan Haji, Jakarta, PT Qaf Media Kreativa, 2022
0 Komentar
Silakan tinggalkan komentar Anda